Biografi Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri Pertama

Biografi Moh. Hatta, Wakil Presiden Pertama Indonesia

Biografi Moh. Hatta, Wakil Presiden Pertama Indonesia

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Menurut Laman resmi Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional, Moh. Hatta memiliki sebuah pertama yang diberikan oleh orangtuanya ketika dilahirkan, yaitu Muhammad Athar. Hatta merupakan pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama.

Hatta dilahirkan dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatra Barat.  Hatta menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi. Dan kemudian pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang.  

Saat ia menginjak usia 13 tahun, beliau sebenarnya telah lulus ujian masuk ke HBS (pendidikan setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta). Namun, ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang lantaran usianya pada saat itu yang masih sangat muda. 

Pada akhirnya Moh. Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang. Lalu, kemudian pada tahun 1919 Moh. Hatta pergi ke Batavia untuk studi di salah satu sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera.

Pada tahun 1921 Hatta pergi ke Rotterdam, sebuah kota di negara Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshoge school (bahasa inggris: Rotterdam School of Commerce, kini menjadi Erasmus University). 

Di Belanda, Hatta tinggal selama 11 tahun. Pada tanggal  27 November 1956, Bung Hatta sudah memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yoyakarta. 

Perjalanan Organisasi 

Perjalanan Organisasi Hatta dimulai sejak ia menginjak umur 15 tahun. Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, ia berperan sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. 

Sementara saat di Batavia, Hatta aktif di Jong Sumatranen Bond Pusat, juga memiliki peran sebagai bendahara.  

Kemudian, Hatta mulai menetap di negara Belanda semenjak September 1921. Ia segera bergabung dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging).  

Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan pada koran De Expres.

Kesadaran politik Hatta semakin berkembang dikarenakan kebiasaannya untuk menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Ia mengatakan memiliki salah seorang tokoh politik yang menjadi idola, yaitu Abdul Moeis.

Perjalanan Politik Moh. Hatta

Hatta mengawali karir pergerakannya politiknya di Indische Vereeniging pada tahun 1922, sebagai bendahara. Hatta di angkat pada 19 Februari 1922, ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging.  

Ketua lama Dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Ketika itulah mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging lalu menjadi Nederland Indie hingga menjadi Indonesia.  

Pada forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische Vereeniging mengatakan bahwa dari sekarang mereka harus mulai membangun Indonesia dengan meniadakan Hindia atau Nederland Indie

Aktivitas Moh. Hatta dalam organisasi ini menyebabkan ia ditangkap oleh pemerintah Belanda, hingga akhirnya Hatta dibebaskan setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal yaitu Indonesia Free.

Pada tahun 1932, Moh. Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club Pendidikan Nasional Indonesia yang memiliki suatu tujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. 

Moh. Hatta kemudian kembali ditangkap bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Ia di asingkan ke daerah Digul dan Banda selama 6 tahun.

Pada tahun 1945 diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama dengan Bung Karno sebagai presiden RI pada saat itu. Namun, pada tahun 1956 Hatta mundur dari jabatan wakil presiden karena berselisih dengan Presiden Soekarno. 

Hatta menutup usianya di Jakarta 14 Maret 1980. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Itulah akir dari perjalanan Bung Hatta yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia bersama dengan Presiden Soekarno.



Komentar