Biografi Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri Pertama

Biografi Abdul Haris Nasution, Orang yang Lolos Dari G30S PKI

 



Abdul Harris Nasution adalah pahlawan nasional Indonesia yang menjabat sebagai Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (APRI) pada tahun 1948. Kemudian, pada saat invasi Belanda kedua pada 19 Desember 1948, Nasution memimpin pembentukan pemerintahan militer Indonesia dari para gerilyawan. Abdul Harris Nasution juga merupakan salah satu prajurit TNI yang lolos dari upaya penculikan 30 September 1 Oktober 1965.

Masa Muda


Abdul Haris Nasution atau AH Nasution lahir pada tanggal 3 Desember 1918 di desa Hutapungkut, Kotanopan, Sumatera Utara. Nasution adalah anak kedua dari pasangan H. Abdul Halim Nasution dan Hj. Zahara Lubis. Ayahnya adalah seorang pedagang tekstil, karet dan kopi dan anggota Sarekat Islam. Jadi, tidak mengherankan jika ia begitu dikenal, tumbuh dalam keluarga Muslim yang sangat taat.

Sebagai seorang anak, ia mengenyam pendidikan dasar di kampung halamannya di Hutapungkut. Ayahnya sebenarnya ingin Nasution belajar di sekolah agama, sedangkan ibunya ingin Nasution belajar kedokteran di Batavia (sekarang Jakarta). Namun, keinginan Nasution tidak terpenuhi ketika Nasution mendapat beasiswa untuk belajar pendidikan di Sekolah Raja Bukittinggi (sekarang SMAN 2 Bukittinggi) pada tahun 1932.

Nasution awalnya ingin menjadi guru. Namun seiring waktu, keinginan ini semakin memudar. Nasution sebenarnya tertarik menjadi tentara. Meski demikian, Nasution tetap mengajar setelah lulus pada tahun 1937. Ia pernah mengajar di Bengkulu dan Palembang.

Masa Militer


Karir militer Nasution dimulai pada tahun 1940 ketika Nazi Jerman menduduki Belanda dan pemerintah kolonial Belanda membentuk korps perwira cadangan untuk menampung penduduk asli. Nasution juga ikut karena merupakan kesempatan untuk mendapatkan pelatihan militer. Ia kemudian dikirim ke Akademi Militer Bandung untuk memulai latihannya.

Karena keahliannya, Nasution dipromosikan menjadi kopral pada September 1940 dan menjadi sersan tiga bulan kemudian. Kemudian, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Nasution bergabung dengan militer Indonesia yang dikenal sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Karier Nasution di militer terus berkembang. Pada tahun 1948, Nasution kembali dipromosikan menjadi Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (APRI).

Penculikan


Pada tanggal 1 Oktober 1965, penculikan terhadap tujuh perwira Angkatan Darat dikenal dengan nama Gerakan 30 September (G30S). Nasution juga menjadi salah satu sasaran dari pemberontakan ini. Sekitar 15 tentara dikirim mereka mencoba menyelinap ke rumah Nasution pada pukul 04.00 WIB. Mereka mengira Nasution pasti tertidur,  tapi ternyata dia masih bersama istrinya. Nasution sendiri tidak mendengar suara apapun. Sementara itu, istrinya mengatakan dia mendengar pintu dibuka paksa.

Istri Nasution segera bangkit dan memeriksa. Ketika dia membuka pintu kamarnya, dia melihat tentara Cakrabirawa sudah berdiri di sana, siap menembakkan senjata mereka. Istrinya berteriak dan menutup pintu secara otomatis. Nasution segera mencoba melarikan diri bersama istrinya melalui pintu lain dan menyusuri lorong samping rumahnya.

Beberapa peluru ditembakkan saat Nasution mencoba menyelamatkan diri. Akibatnya, seluruh keluarga terbangun karena suara tembakan dan terkejut. Ibu Nasution dan adik perempuannya, Mardia yang tinggal serumah, langsung lari ke kamar tidur Nasution. Mardia lari bersama putri Nasution yang berusia 5 tahun, Ilna. Keduanya mencoba bersembunyi di tempat yang aman, tetapi ketika mereka melarikan diri, seorang perwira non-komisioner Pengawal Istana menembaki dia. Irma ditembak tiga kali di punggung.

Lima hari kemudian, Irma dinyatakan meninggal di rumah sakit. Sedangkan Nasution berhasil lolos dari kejaran tentara yang berusaha menangkapnya. Nasution pun segera mengambil tindakan untuk mengatasi hal tersebut. Akhirnya, pada pukul 06:00 pada tanggal 2 Oktober 1965, G30S dapat diatasi.

Tutup Usia

Abdul Haris Nasution meninggal pada 6 September 2000 di Jakarta karena stroke dan koma. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Untuk menghormati prestasinya, AH Nasution dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Komentar