Biografi Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri Pertama

Biografi Siti Hartinah, Penggerak Kongres Wanita Indonesia


Yang dikatakan sebagai Pahlawan Indonesia tidak hanya yang ikut berperang di Medan Perang. Seseorang dikatakan sebagai pahlawan dapat melakukan perjuangan dalam bentuk memberantas kebodohan, memajukan kehidupan bangsa, melindungi hak-hak warga negara dan yang lainnya.


Begitu juga dengan Siti Hartinah atau yang dikenal dengan julukan Tien Suharto yang berjuang lewat dukungannya terhadap sang suami, Soeharto Presiden Republik Indonesia ke-2 dalam meraih kemerdekaan Indonesia.


Berikut biografi Siti Hatinah alias Tien Suharto beserta bentuk perjuangannya.


Biografi Siti Hartinah

Ibu Tien Soeharto (pengucapan EYD: Suharto) memiliki nama lengkap Raden Ayu Hj. Siti Hartinah. Ia lahir Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923.


Siti Hartinah merupakan anak kedua dari pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Dan istri dari Presiden Indonesia kedua, Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto.


Semasa kecil, hidupnya berpindah – pindah karena sang ayah yang seorang pamong praja harus beberapa kali berpindah tugas. Dimulai dari Klaten ke Jumapolo, lalu ke Matesih, Solo, dan Kerjo. Karena selalu berpindah – pindah,  Ia pun sempat diadopsi oleh teman ayahnya, Abdul Rachman, tetapi karena sakit-sakitan, dikembalikan ke keluarga asalnya.


Siti Hartinah kecil hanya menerima pendidikan Sekolah Dasar Dua Tahun (Ongko Loro), namun tetap saja masih mengikuti HS Siswo sampai tahun 1933. Usai mendapat pendidikan disekolah, sepulang kerumah Tien Suharto kembali mengikuti les membatik dan mengetik.


Pada masa penjajahan Jepang, Hartinah  ikut serta dalam Barisan Pemuda Putri di bawah Fujinkai yang berubah menjadi Laskar Putri Indonesia ketika Indonesia merdeka. Saat terjadi peperangan, ia bertugas sebagai palang merah dan bekerja di dapur umum.


Tien Soeharto yang menikah dengan Soeharto tidak berhenti memikirkan nasib negara ini. Melalui sang suami, ia menyuarakan pandangannya agar bangsa ini tetap merdeka. Posisi Siti Hartinah juga sangat menentukan dalam beberapa keputusan penting.


Antara lain saat Soeharto memutuskan terus menjadi tentara saat ia merasa mengalami badai fitnah pada tahun 1950-an. Soeharto nyaris berhenti dan ingin menjadi petani atau sopir taksi kala itu.


Selain itu, Siti Hartinah juga berpengaruh dalam pelarangan poligami bagi pejabat di Indonesia. Sebagai penggerak Kongres Wanita Indonesia, ia mendesak perlunya larangan poligami yang akhirnya keluar dalam wujud Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1983 yang tegas melarang PNS untuk berpoligami dan juga UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.


Dan ia juga memiliki andil dalam rencana sukses Soeharto pada akhir tahun 1990-an, dengan menyarankan petinggi Golkar agar tidak lagi mencalonkan suaminya.


Setelah semua perjuangan yang dilakukannya, ibu negara ini akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 28 April 1996, diusianya yang ke-72 tahun akibat sakit jantung yang dideritanya.


Namun isu yang beredar mengatakan bahwa beliau meninggal dunia karena terkena peluru dari tembakan senjata Tommy Soeharto saat bertikai dengan kakak kandungnya Bambang Trihatmodjo, pada saat beliau melerai sayangnya peluru tembakan itu mengenai dada kiri beliau hingga meninggal dunia.


Jenazah Siti Hartinah dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah tepat pada tanggal 29 April 1996. Upacara pemakaman tersebut dipimpin oleh inspektur upacara yaitu Ketua DPR/MPR saat itu, Wahono dan Komandan upacara Kolonel Inf G. Manurung, Komandan Brigif 6 Kostrad saat itu.


Sebagai bentuk terima kasih negara ini atas beberapa gagasan yang disuarakannya, Siti Hartinah alias Tien Suharto diberi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 60/TK/1996, tanggal 30 Juli 1996.


FYI, Taman Mini Indonesia Indah atau yang biasa disingkat dengan TMII, Taman Buah Mekarsari, Perpustakaan Nasional, RSAB Harapan Kita merupakan gagasan ibu negara yang satu ini dan semuanya bisa dinikmati sampai saat ini.

Komentar