Biografi Abdoel Moeis, Sastrawan Asal Minang

Depati Amir: Pahlawan Nasional dari Bangka Belitung

 

Siapakah Dipati Amir?

Salah satu sejarah kecil yang belum banyak mengudara dalam perbincangan panggung sejarah nasional adalah kisah perjuangan Depati Amir, pahlawan asal Pangkalpinang (Bangka) yang gigih membebaskan rakyatnya dari belenggu penjajah pada sekitar 1850-an.

Hamparan cerita rakyat terkait sosok pejuang ini seakan tak pernah lekang diterpa waktu. Pengabadian nama Depati Amir di beberapa fasilitas publik, seperti jalan dan bandara, di Pangkalpinang merupakan wujud kecintaan dan penghormatan yang tinggi atas Depati Amir. Namun begitu, pemaknaan tersebut akan terkesan dangkal apabila generasi muda masa kini hanya sebatas mengenal nama tanpa ada upaya pengkajian secara intensif sejarah hidupnya. 

Depati Amir dikenang oleh penduduk Bangka sebagai pejuang yang gigih mempertahankan taah air dari cengkeraman Belanda. Semasa perang gerilya, ia tidak membatasi pergaulan hanya pada bangsa Melayu yang muslim, namun juga menjalin pergaulan dengan orang Cina. Ini merupakan satu kasus yang menarik dalam historiografi nasional. Peran orang Cina belum terlihat dalam upaya melawan penjajah, namun pengecualian ditemukan dalam kisah perjuangan Depati Amir.

Selama lebih dari 3 atau 4 bulan pada tahun 1850, Belanda belum bisa meringkus Depati Amir. Dalam menjalankan aksinya, Amir kerapkali dibantu oleh para koleganya yang bukan hanya orang Melayu melainkan juga orang Cina. Di antara mereka adalah: King Tjoan (mantan mandor tambang di Blinyu, Budjang Singkep, Akei Asan (si Hasan), Oebien, Bengol, Tata, Dayo, Dasum, Ko So Sioe (mantan centeng Cina di tambang Singlo, Sungailiat), Lanang Amo, Tje Ling Ie, Lo Adjien, Iksam (orang Cina dari Blinyu), Moksin dan Katak ( Orang Cina dari Pangkalpinang).

Ko So Sioe yang memutuskan keluar dari tambang di Sungailiat dan bergabung dengan Amir. Selain ia, masih banyak orang Cina yang memiliki tugas khusus dalam jejaring pasukan Depati Amir. Lanang Amo, Tyo Seng, dan Lok Adjin berserikat pada gerakan Depati Amir dengan memasok senjata siap pakai seperti tombak, klewang, dan lain-lain.

Adapun Mohsin dan Katak, membantu pemeberontakan di tambang Seroe. Raman, Aim, dan King Tjoan (orang-orang Cina yang masuk Islam) sukses mengajak 60 orang pengembara (pengangguran) berkumpul di Batin Maros untuk bergabung dalam kesatuan Amir. Ketiga nama itu dikenang pula sebagai pemasok persenjataan dari Singapura.

Kolaborasi Amir dengan orang Cina kembali ditunjukkan mereka membakar tambang Sungailiat. Kejadian ini terjadi sebelum ditetapkannya Depati Amir sebagai target DPO (Daftar Pencarian Orang). Dalam kesempatan ini Amir dibantu oleh 30 sampai 40 orang Cina.

Dalam suatu serangan di Ampang, barisan Amir mendapat bantuan dari seorang Cina bernama Tjing yang menebarkan racun pada nasi yang akan dihidangkan kepada tentara kolonial.

Baik Amir maupun Tjing, dinpadang Belanda merupakan sepasang pejuang yang berbahaya. Dalam korespondensi lintas pemerintah, nama-nama mereka kerapkali disebutkan sebagai tokoh penting biang keladi kerusuhan di Bangka. Keduanya ibarat representasi dua etnis dominan yang mendiami Pulau Bangka, Melayu dan Cina.

Baik penguasa pribumi maupun pembesar Cina di daerah itu tak segan membantu perjuangan mereka. Adalah Oen Bing Hee, letnan Cina di Merawang, turut membantu kerja barisan Amir. Di kalangan pribumi, Demang Sura Mengala merupakan salah satu sahabat Amir yang turun menggalang dana untuk melanjutkan perjungan Amir.

Berbagai upaya dilakukan Belanda untuk menangkap depati Amir. Dalam surat kapten komandan infanteri ke 1, Doorschodt, kepada mayor komandan militer untuk Bangka yang berkedudukan di Mentok, Rumah Bakem tanggal 24 Juli 1850 no. 96.

Ia mengisahkan bahwa pada tanggal 23 Juli 1850, datang seseorang kepada Doorschodt yang memberikan penjelasan bahwa di malam ini, Amir, Awang, serta gerombolan perusuh (pejuang) akan berkumpul di Pako. Segera sang komandan membuat rencana penyerangan tiba-tiba dengan menyiapkan sepasukan dibantu oleh Letnan Dua Doerleban berkekuatan 50 opsir beserta 25 barisan pasukan yang berangkat pada malam hari pukul 1.

Diceritakan pula, kondisi jalanan di kampung Paya Raya amat bagus hingga sampai di kaki gunung yang dikelilingi hutan, kondisi jalan dipenuhi lumpur yang dalam sehingga menghambat laju pasukan. Baru pada pukul 4. 30 ekspedisi itu sudah dekat dengan kampung yang dimaksud. Setelah diteliti ternyata kampung Pako itu kosong. Kampung itu hanya terdiri dari 12 rumah besar dan gudang. Menginjak pukul 6 pagi, Doorschodt memerintahkan untuk membakar kampung itu, lalu setelah itu kembali melakukan pencarian sepanjang jalan semula.

Berdasarkan laporan kolonial tertanggal 17 Januari 1851, No. A/19, memberitakan tentang Amir dan Tjing yang berada dalam hutan Mendu Barat sejak 29 Desember 1850. Keadaan mereka amatlah payah oleh karena kekuarangan bahan makanan. Semua akses menuju ke hutan ini telah ditutup oleh Belanda. Segera Belanda memeberitakan sayembara bagi mereka yang dapat menangkap Depati Amir akan diberi hadiah.

Akhirnya, ditemukan empat orang yang ditetapkan sebagai spion yang diutus masuk hutan menemui Depati Amir. Sesampainya di tempat persembunyian Amir, mereka membujuknya untuk mengikuti mereka lewat jalan rahasia yang belum diketahui Belanda. Atas niat baik spion itu, Depati Amir sempat memberikan keris, cincin emas, dan 6 gulden Spanyol. Namun, di penghujung jalan Amir dijebak dan diikat tangannya lalu diserahkan ke Belanda.

Kerja keras para spion diganjar hadiah sebesar 1000 gulden dengan rincian pembagiannya; kepada masing-masing spion bernama Angar dan Sawal yang dipercaya menemukan Depati Amir diberi masing-masing 100 gulden (200 gulden), Haji Mohamad Seman (100), Batin Tikal dari Bukit (100), Batin Mendu Barat (100), kepala barisan Mohamad (100), Batin Mendu Timur (25), dan 36 barisan (375); total 1000 gulden.

Banyaknya orang yang bersekutu dengan Belanda, menandakan Depati Amir merupakan pejuang yang licin, sehingga Belanda harus menggunakan tenaga pribumi untuk melacak keberadaan Amir. Tidak berselang lama, Tjing dan pengikut Depati Amir lainnya datang menggabungkan diri . Termasuk pula 50 orang wanita da anak-anak dari Mapur.

Adalah melalui surat residen Batavia kepada mentri negara gubernur jendral di Batavia tertanggal 10 Maret 1851 no. 850, lampiran 1, yang menuliskan beberapa nama pengikut Depati Amir yang berhasil didatangkan ke Batavia dari Bangka dengan kapal api “Onrust”. Nama-nama mereka adalah: Hadji Aboe Bakar, Roemah, Akei Ong Ko, Munak, Akei Njap, Selabar, Dindik, Oentik, Liam, Binja, Rahim dan Setam. Sementara menunggu perintah dari pemerintah pusat, mereka ditempatkan terlebih dahulu di rumah tahanan.

Masih dalam surat ini, dikabarkan bahwa Depati Amir termasuk ibunya Dakim, istrinya Imur, saudara perempuannya Ipa dan Sena, saudara iparnya Gindip, anak angkatnya Baidin dan pembantunya Mia berdasarkan ayat 1 dan 2 besluit (surat keputusan) 4 Februari 1851 no. 3, telah diberangkatkan menggunakan kapal api “Argo” menuju Surabaya dan dari sana dengan kapal “Banda” mereka dikirim ke Timor (Kupang). Sedangkan kerabatnya yang lain bernama Kapidin, Lindam, da Djida kala itu belum dibawa dari Bangka.

Walaupun ditangkap dalam waktu yang hampir bersamaan, namun nasib memisahkan persahabatan mereka. Jamak diketahui, Depati Amir dan beberapa keluarganya harus menjalani hukuman pengasingan seumur hidup di Kupang. Sementara keberadaan Tjing (Hamzah). Sosok pejuang yang dibuang ke Pulau Rote, Timor selama-lamanya belum diungkap dalam sejarah perjuangan pejuang dari Bangka.

Beberapa aparat daerah harus menerima kenyataan yang tidak mengenakan akibat keterlibatannya dalam barisan Depati Amir. Demang Sura Mengala dan Oen Beng Hee diberhentikan dari jabatannya. Mereka berdua diharuskan tinggal di Mentok di bawah pengawasan polisi.

Beberapa dari pemuka perang lainnya harus merasakan hukum pembuangan seumur hidup laiknya Depati Amir. Batin Ampang dan Ko So Sioe mendapat vonis pembuangan ke Ambon, Banda, atau Ternate. Sedangkan orang Cina Min Po, Min Tjoe, Tian Djien, Ngo Kotjing, Ngong Kiedjan, dan Ho Akie mengalami hukuman pembuangan serupa namun hanya dibatasi selama 7 tahun.

Sebenarnya, Depati Amir bukan lantas diam menerima nasib pembuangannya. Melalui korespondensinya dengan pemerintah Batavia tanggal 14 Juli 1853, ia sempat memohon kemurahan hati Gubernur Jendral untuk memindahkan tempat pengasingannya ke Jawa dengan alasan kelangkaan makanan yang cocok di Tanah Timor (Kupang).

Permintaan itu tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah pusat. Akhinya, pada tanggal 28 September 1869, Depati Amir tutup usia di Kupang oleh karena usia lanjut dan sakit.

Beberapa penggal peristiwa serta tokoh yang disebutkan di atas agaknya belum diketahui oleh masyarakat luas. Ternyata, keterlibatan kelompok Cina begitu total dalam menjemput kemerdekaan. Perjuangan melawan kolonial di Bangka, tak ubahnya perjuangan multietnik yang tentu saja memiliki pesona yang berbeda dengan peristiwa serupa yang terjadi di tempat lain.

Semasa dalam pembuangan, Depati Amir bekerja sama dengan orang-orang muslim yang berasal dari suku Arab untuk mengembangkan dakwah islamiyah yang penuh dengan suka dan duka, tidak hanya memerlukan  harus memeras pikiran tetapi juga mengucurkan derai air mata, sehingga tempat kediaman  Depati itu kini dikenal dengan Kampung Air Mata. Di sanalah berkembang  keturunan Bahren yang berasal dari Bangka. 

Komentar