Biografi Abdoel Moeis, Sastrawan Asal Minang

Mengenal 4 Pahlawan dari Kalimantan Selatan

Peringatan Hari Pahlawan yang dirayakan tiap tanggal 10 November, seharusnya mengingatkan kembali generasi sekarang untuk perjuangan para pendahulu. Termasuk, pahlawan di Kalimantan Selatan (Kalsel) atau kerap dikenal dengan julukan “Banua”.

Dikutip dari sejarahlengkap.com, berikut biografi lengkap hingga sejarah empat pejuang pahlawan di Banua yang berhasil melawan penjajah :

1. Pangeran Antasari

Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada 1797 atau 1809 dan wafat di Bayan Begok pada 11 Oktober 1862.

Antasari adalah seorang Sultan Banjar dan pemimpin dalam Perang Banjar yang dilakukan untuk melawan pasukan kolonial Belanda.
Nama kecilnya adalah Gusti Inu Kertapati, dari ibuu Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman dan ayahnya Pangeran Masohut bin Pangeran Amir. Ayahnya adalah cucu dari Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang tidak dapat naik tahta pada 1785 karena diusir oleh Pangeran Nata, Walinya yang kemudian mengangkat dirinya menjadi Sultan Tahmidullah II dengan bantuan Belanda.

Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin suku Banjar tetapi juga dianggap sebagai pemimpin oleh suku Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Ngaju, Maanyan, Siang, Bakumpai dan suku-suku lain yang mendiami kawasan pedalaman dan sepanjang sungai Barito.

Pangeran melanjutkan perlawanan terhadap Belanda setelah Sultan Hidayatullah ditipu dengan menyandera ibundanya dan diasingkan ke Cianjur.

Perang Banjar pecah pada 25 April 1859 ketika Pangeran dan 300 orang prajurit menyerang tambang batu bara Belanda di Pengaron dan berlanjut di seluruh wilayah kerajaan Banjar seperti Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang Sungai Barito hingga ke Puruk Cahu.

Dirinya meninggal karena terkena penyakit paru-paru dan cacar pada usia 75 tahun sehingga perlawanan dilanjutkan oleh Muhammad Seman, putranya. Antasari diangkat sebagai pahlawan nasional pada 27 Maret 1968.

2. Brigjen Hasan Basri

Lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan pada 17 Juni 1923 dan wafat di Jakarta pada 15 Juli 1984. Ia merupakan salah seorang tokoh militer yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia terutama di Kalimantan Selatan.

Ia adalah pendiri Batalyon ALRI Divisi IV di Kalsel, dan disebut sebagai Bapak Gerilya Kalimantan oleh Ketetapan DPRGR Tingkat II Hulu Sungai Utara pada 20 Mei 1962. Pendidikan awalnya adalah HIS, Tsanawiyah al-Wathaniah di Kandangan, Kweekschool Islam Pondok Modern Ponorogo, Jatim.

Setelah kemerdekaan, ia aktif dalam organisasi pemuda Kalimantan yang pusatnya di Surabaya. Karier sebagai seorang tentara dan pejuang dimulai dari situ, ketika ia menyusup pulang ke Kalsel dan menjadi pemimpin Laskar Syaifullah.

Ketika banyak anggota dari Laskar ditangkap Belanda, Hasan Basri membentuk Banteng Indonesia hingga mendirikan Batalyon ALRI.

Walaupun hasil perjanjian Linggarjati dan Renville membuat Kalimantan berada di bawah kekuasaan Belanda, Hasan Basri tetap melanjutkan perjuangannya.

Puncaknya, ia berhasil memproklamasikan kedudukan Kalimantan sebagai bagian dari RI pada 17 Mei 1949. ALRI kemudian dilebur ke dalam TNI AD Divisi Lambung Mangkurat dan dirinya diangkat sebagai Letnan Kolonel.

Pada 3 November 2001, ia diberikan gelar pahlawan nasional dari Banjarmasin oleh pemerintah. Ketahui juga mengenai nama pahlawan nasional dari Sumatera Utara dan nama pahlawan nasional dari Sumatera Barat.

3. Idham Chalid

Salah satu politisi Indonesia yang berpengaruh pada zamannya, Idham Chalid lahir di Satui, Kalsel pada 27 Agustus 1921 dan meninggal pada 11 Juli 2010 di Jakarta.

Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia di Kabinet Ali Sastroamidjojo dan di Kabinet Djuanda, Ketua MPR dan DPR pada 1972-1977, juga aktif dalam kegiatan keagamaan dan pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Nadhlatul Ulama sejak 1956-1984.

Dirinya sudah aktif di PBNU sejak remaja dan pernah menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang Kalsel ketika NU masih menjadi bagian dari Masyumi. Bahkan, pernah menjadi anggota DPR RIS (1949-1950), Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (1952-1956) sebelum menjadi Ketua Umum NU pada 1956 dan merupakan orang terlama yang pernah menjabat sebagai ketua NU.

Gelar pahlawan nasional dari Banjarmasin dianugerahkan oleh pemerintah pada 7 November 2011 sebagai putra Banjar ketiga yang diangkat sebagai pahlawan nasional.

Pada masa setelah Orde Lama, dirinya juga menjabat sebagai Menteri Utama Bidang Kesejahteraan Rakyat pada Kabinet Ampera I, Menteri Negara Kesejahteraan pada Kabinet Ampera II dan Kabinet Pembangunan I.

4. Ir. Pangeran H. Mohammad Noor

Lahir pada 24 Juni 1901 di Martapura dari keluarga bangsawan Banjar, ia adalah cicit dari Ratu Anom Mangkubumi Kentjana bin Sultan Adam al-Watsik Billah.

Saat itu, Kesultanan Banjar sudah dihapuskan secara sepihak oleh Belanda dan menjelang akhir Perang Banjar. Sehingga keluarga Kesultanan yang tidak lagi memiliki hak istimewa yang terpencar di mana-mana dan jatuh miskin.

Ia dapat bersekolah di HIS, MULO, HBS lalu Techniche HoogeSchool (ITB) hingga mendapatkan gelar Insinyur pada 1927, setahun setelah Soekarno.

Dirinya tidak bekerja untuk Belanda, melainkan memilih berjuang untuk rakyat dengan menggantikan ayahnya dalam Volksraad sebagai wakil Kalimantan pada 1935-1939.

Lalu, ia aktif sebagai anggota PPKI dan ikut melawan tentara sekutu pada pertempuran Surabaya Oktober-November 1945.

Pada masa revolusi tahun 1945-1949, dirinya mendirikan pasukan MN 1001 untuk beroperasi di Kalsel dengan pimpinan Hassan Basri dan juga di Kalteng dengan dipimpin Tjilik Riwut.

Kemudian, diangkat menjadi Gubernur Kalimantan pertama berkedudukan di Yogyakarta saat Agresi Militer Belanda I dan II, kemudian membantu Idham Chalid serta rekan-rekannya untuk bertemu dengan Mohammad Hatta yang meminta agar Kalimantan terus berjuang secara militer dan politik walaupun belum dapat dibantu oleh Pusat.

Selanjutnya, ia diangkat menjadi Menteri PU dan berhasil menyelesaikan proyek Sungai Barito, pembukaan pesawahan pasang surut atau P4S, membangun PLTA Riam Kanan dan sebagian kanal di Banjarmasin-Sampit, juga mengeruk ambang Barito yang dapat meningkatkan kemakmuran di lembah sungai Barito. Beliau diakui sebagai pahlawan nasional dari Banjarmasin pada tahun 2018. 

Komentar