Biografi Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri Pertama

Biografi Dr. Ferdinand Lumban Tobing, Dokter dari Tapanuli

 


Salah satu sekolah kedokteran yang banyak melahirkan pahlawan- pahlawan dalam bidang kedokteran di Jawa adalah School to Opleiding van Inlandsche Artsen( STOVIA).  STOVIA juga dikenal meluluskan dokter- dokter yang mempunyai andil besar dalam sejarah bangsa Indonesia salah satunya adalah Dr. Ferdinand LumbanTobing. 

F.L. Tobing merupakan orang Batak kedua yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah RI setelah SisingamangarajaXII.  Dr.F.L. Tobing merupakan putra asli  Tanah Batal (Tapanuli)  yang dicintai rakyat Sumatera Utara.

F.L. Tobing meninggal di Jakarta, 7 Oktober 1962 pada usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Desa Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Namanya kemudian diabadikan di sebuah Rumah Sakit Umum di Sibolga dan bandar udara di Pinangsori, Tapanuli Tengah. Seperti yang dikatakan Buya Hamka,Dr.F.L. Tobing adalah seorang Batak tulen, Kristen taat, yang teramat dicintai rakyat Sumatera Utara. Ia kemudian dikukuhkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 17 November 1962 berdasarkan Surat Keputusan PresidenNo. 361 Tahun 1962.

Lahir dari pasangan  Herman Lumban Tobing  dan ibunya bernama Laura Sitanggang, di Sibuluan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 19 Februari 1899.  Ia  merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara.  Di usia yang baru menginjak 5 tahun,F.L. Tobing dibawa oleh ayah angkatnya yang bernama Jonathan Pasanea ke Depok  untuk menimba  ilmu  di Sekolah Dasar Belanda( Europesche Lagere School).

F.L. Tobing kemudian melanjutkan pendidikannya ke STOVIA.  Ia bergabung di organisasi Jong Batak ketika sedang menempuh pendidikan di STOVIA.  Jong Batak sendiri  berangotakan siswa- siswa STOVIA yang berasal dari Sumatera Utara. Setelah lulus dari STOVIA pada tahun 1924, ia bekerja sebagai dokter bagian penyakit menular di Centrale Burgelijke Ziekenhuis( sekarang Rumah Sakit Tjipto Mangoenkoesoemo) Jakarta.

Setelah menjadi dokter di CBZ beberapa tahun, ia kemudian sering dipindahtugaskan. Pada 1931, dia dipindahkan ke Surabaya dan ditugaskan di bagian penyakit dalam. Tahun 1935, dia dipindahkan lagi ke daerah Tapanuli yang merupakan tanah kelahirannya. Di daerah Tapanuli, pertama- tama dia ditempatkan di Padang Sidempuan, kemudian dipindahkan ke Sibolga, ibukota Karesidenan Tapanuli. Pada saat pecah Perang Dunia II diiringi dengan peralihan kekuasaan di Indonesia dari Belanda kepada Jepang pada 1942 memenerikan pengalaman berharga bagiDr. Ferdinand Lumban Tobing.

Dr.F.L. Tobing pernah diangkat menjadi dokter pengawas kesehatan romusha pada masa pendudukan Jepang.  Ia menjadi saksi hidup kala itu bagaimana menderitanya nasib para romusha ketika dipaksa membuat benteng di Teluk Sibolga.  Meski badan para pekerja sudah tinggal tulang yang dibalut kulit,  mereka dipaksa bekerja untuk kepentingan penjajah dan terus diperlakukan sewenang- wenang.

Sebagai dokter, ia tidak lagi berpikir hanya mengobati penyakit fisik, tetapi bagaimana caranya menggelorakan semangat untuk melawan penjajah. Ia kemudian melancarkan protes terhadap pemerintah Jepang.

Akibatnya, ia dicurigai dan termasuk dalam daftar orang terpelajar Tapanuli yang akan dibunuh oleh Jepang. Akan tetapi, ia lolos karena berhasil menyelamatkan nyawa seorang polisi Jepang yang jatuh dari kendaraan. Oleh karenanya, Ferdinand diangkat menjadi anggota Syu Sangi Kai( Dewan Perwakilan Daerah) dan juga sebagai Chuo Sangi In( Dewan Pertimbangan Pusat) Tapanuli pada November 1943 atas jasanya yang telah menyelamatkan seorang polisi Jepang yang terluka tersebut.

Di awal masa kemerdekaan,Dr.F.L. Tobing diangkat menjadi Residen Tapanuli, sejak Oktober 1945. Namun, Pemerintah Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Mereka berusaha kembali merebut kemerdekaan Indonesia dengan melancarkan Agresi Militer Belanda I dan II. Pada awal revolusi,Dr.F.L. Tobing berperan aktif mempertahankan kemerdekaan.

Ketika Agresi Militer Belanda II terjadi, Dr. Ferdinand diangkat menjadi Gubernur Militer Tapanuli dan Sumatera Timur Selatan. la pun memimpin perjuangan gerilya di hutan dan gunung. Selain itu, di masa- masa revolusi kemerdekaan ia juga pernah menjabat beberapa jabatan penting kenegaraan seperti Menteri Penerangan, Menteri Negara Urusan Transmigrasi, Menteri Urusan Daerah, dan Menteri Kesehatan( advertisement interim) pada masa Kabinet Ali SastroamijoyoI.

Komentar