Fakta Menarik Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia

Biografi Tan Malaka, Pahlawan Nasional yang Sempat Terlupakan


Jika dihitung – hitung, pahlawan Nasional di Indonesia sangatlah banyak. Namun, beberapa diantara mereka sempat dilupakan, sementara perjuangannya dalam memperebutkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa diragukan.


Mereka rela berkorban nyawa demi menggapai kemerdekaan. Salah satu pahlawan nasional yang sempat dilupakan adalah Tan Malaka.


Tan Malaka termasuk pahlawan yang kontroversial.  Lewat pemikiran radikalnya yang menggunakan ideologi kiri, membuatnya terlibat dalam pemogokan buruh di Sumatera. Kala itu ia sudah menjadi seorang guru anak-anak pada kuli kontrak di perkebunan tembakau di Deli (Sumatera Utara).


Namun semua yang dilakukannya itu tidak disukai rekan – rekan gurunya yang merupakan orang Belanda. Dan mereka selalu memandang rendah Tan Malaka.


Hingga akhirnya ia diangkat menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia di tahun 1921. Aktivitas politiknya itu membuat Tan Malaka di usir dari Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda. Meski menerima perlakuan seperti itu, semangat dari pahlawan yang satu ini tak pernah padam.


Tahun 1922, ia terpilih sebagai waki Indonesia dalam Kongres Keempat Komintem (Komunis Internasional). Dan disana ia diangkat sebagai agen komitmen untuk Asia Tenggara dan Australia.


Kemudian pada tahun 1924, Tan Malaka mengutarakan tentang konsep kemerdekaan NKRI lewat tulisan disebuah buku yang berjudul Naar De Republiek Indonesia (Bahasa Indonesia: Menuju Republik Indonesia).


Dan berkat tulisan – tulisannya tersebutlah membuat Soekarno, Hatta, Sjahrir dan tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya mendapatkan inspirasi untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari para penjajah.


Nah, bagi yang penasaran dengan sosok pahlawan nasional yang satu ini, yuk simak biografi Tan Malaka berikut ini.


Biografi Tan Malaka

Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau yang lebih dikenal dengan Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Gunuang Omeh, Sumatera Barat, Indonesia pada 2 Juni 1897. Ia merupakan putra dari HM. Rasad Caniago, seorang buruh tani dan Rangkayo Sinah Simabur, putri seorang tokoh terpandang di desa kelahirannya.


Tan Malaka mendapat gelar kebangsawanan dari sang ibu. Ia dan kedua orang tuanya tinggal di Suliki. Disana ia menerima ilmu agama dan juga dilatih seni bela diri, pencak silat.


Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Kweekschool, sekolah guru negeri, di Fort de Kock pada tahun 1908. Selama bersekolah, Malaka belajar bahasa Belanda dan menjadi pemain sepak bola yang andal.


Setelah lulus di tahun 1913, ia memutuskan kembali ke rumah orang tuanya dan menerima gelar adat yang tinggi sebagai datuk. Kemudian ia berniat melanjutkan studi ke Belanda. Selama di Eropa, ia banyak memperlajari sejarah revolusi dan teori – teorinya sebagai sarana untuk mengubah masyarakat.


Sumber inspirasi pertamasanya berasal dari buku De Fransche Revolutie, yang awalnya diberikan oleh G. H. Horensma. Isi buku tersebut adalah terjemahan bahasa Belanda dari sebuah buku oleh sejarawan Jerman, penulis, jurnalis, dan politikus Partai Demokrat Sosial Jerman, Wilhelm Blos, yang berkaitan dengan revolusi Prancis dan peristiwa sejarah di Prancis dari tahun 1789 hingga 1804.


Selain buku tersebut, ia juga membaca buku karya  Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin. Sejak saat itu, ia semakin tertarik dengan budaya negeri Kincir Angin tersebut. Saat masih di Belanda, ia bertemu Henk Sneevliet, salah satu pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).


Dan dari sinilah ia tertarik pada Sociaal-Democratische Onderwijzers Vereeniging (Persatuan Guru Sosial Demokrat) selama ini. Setelah menempuh pendidikan dan mendapat banyak pengalaman di Belanda, di bulan November 1919, Tan Malaka dinyatakan lulus dan berhasil meraih gelar  diploma hulpacte.


Itulah bentuk perjuangan dan biografi singkat Tan Malaka. Tan Malaka menghembuskan napas terakhirnya pada 21 Februari 1949 di Ledok, Selopanggung, Kec. Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur karena ditembak mati oleh pasukan TNI dibawah pimpinan Letnan II Soekotjo (pernah jadi Wali Kota Surabaya).


Berkat perjuangannya, presiden Soekarno menganugerahi gelar pahlawan Nasional kepada Tan Malaka, sesuai Keputusan Presiden RI No. 53, 28 Maret 1963.

Komentar