Biografi Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri Pertama

Biografi Maria Walanda Maramis, Pejuang Emansipasi Wanita Asal Minahasa


Pejuang emansipasi wanita yang ada di bumi pertiwi ini tidak hanya R.A Kartini ataupun Dewi Sartika. Dari tanah Minahasa, terdapat seorang pahlawan wanita yang karena usahanya memajukan hak dan kondisi perempuan di Indonesia pada awal abad ke-20. Sosok yang dimaksud adalah Maria Walanda Maramis.

Ketika Maria berusia 18 tahun, kehidupan wanita di lingkungan tempat tinggalnya tidak memiliki banyak pengetahuan seputar rumah tangga, mengasuh anak, hingga kesehatan.

Maria yang tidak tahan melihat keadaan tersebut, akhirnya berkeliling dari kolong rumah panggung ke kolong rumah lainnya untuk berbagi ilmu kepada para perempuan-perempuan itu. Hal yang diajarkannya seperti menyulam, memasak hingga membuat kue.

Dia juga meminta kepada perempuan yang telah diajarinya untuk ikut andil dalam berbagi ilmu kembali kepada sesama. Dan di tahun 1917, Maria memutuskan mendirikan sebuah organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) di Manado.

Keahliannya dalam melobi membuatnya mendapat rumah pinjaman dari seorang pedagang asal Belanda, A Bollegraf, untuk mendirikan sekolah rumah tangga. Sekolah itu resmi berdiri setahun kemudian dan digunakan untuk menampung gadis-gadis pribumi yang hanya tamatan sekolah rendah dari berbagai kalangan.

Gerakan positifnya tersebut mendapat dukungan yang banyak, sehingga PIKAT mampu membuka cabang sampai ke Kalimantan dan Jawa. Caranya yang dilakukan dalam mempromosikan kegiatan organisasinya, yakni menggunakan kerangka-kerangka yang terdapat dalam surat kabar. Dari situ dia mulai dianggap oleh Kolonial Belanda.

Di tahun 1919, dibentuklah sebuah Badan Perwakilan Daerah Minahasa, dimana setiap anggotanya akan dipilih melalui pemungutan suara populer. Awalnya pemungutan suara itu hanya diperbolehkan untuk para pria.

Maria yang mengetahui hal tersebut berusaha memperjuangakan hak perempuan agar dapat memberi hak pilihnya dalam pemilihan kala itu. Usaha tersebut tersiar hingga Batavia, yang sekarang sudah menjadi Jakarta.

Ditengah bergejolaknya masalah yang ada, pada tahun 1920, Gubernur Jenderal Belanda mengunjungi sekolah PIKAT dan kemudian memberi sumbangan uang terhadap organisasi itu. Dan pada tahun berikutnya, Belanda mengizinkan perempuan Minahasa mengikuti pemilihan Dewan Rakyat Minahasa.

Dan di tahun 1921, perempuan-perempuan Minahasa resmi mendapatkan hak memilih perwakilan Minahasa Raad, Dewan Rakyat di Minahasa.

Biografi Maria Walanda Maramis


Maria Josephine Catherine Maramis yang lahir di Kema, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872 merupakan putri bungsu dari tiga bersaudara dari pasangan Bernadus Maramis dan Sarah Rotinsulu.

Maria memiliki seorang kakak perempuan bernama Antje dan kakak laki-laki, Andries. Andries adalah ayah dari Alexander Andries Maramis yang merupakan seorang menteri dan duta besar dalam pemerintahan Indonesia pada mulanya.

Saat ia masih berumur enam tahun, Maria harus kehilangan kedua orang tuanya dikarenakan sakit. Akhirnya tiga bersaudara itu diasuh oleh sang paman, yakni Mayor Ezau Rotinsulu, yang kala itu menjabat sebagai kepala distrik di Maumbi.

Disana ia dan kedua saudaranya dibesarkan disekolahkan. Maria dan kakak perempuannya disekolahkan di Sekolah Melayu Maumbi. Di sekolah itu mereka mendapatkan ilmu dasar, seperti membaca, menulis dan sedikit ilmu sejarah.

Kala itu, wanita di tanah Minahasa tidak diizinkan mengenyam pendidikan lebih tinggi, alhasil ia dan kakaknya hanya bersekolah selama tiga tahun. Meski demikian, Maria tetap bergaul dengan orang-orang terpelajar lainnya, salah satunya adalah pendeta asal Belanda bernama Jan Ten Hoeve.

Pada tahun 1890, ia dinikahi seorang guru bahasa bernama Joseph Frederick Calusung Walanda. Sejak menikah, namanya berubah menjadi Maria Walanda Maramis. Dari pernikahannya tersebut, mereka dikaruniai tiga orang putri.

Ketiga putrinya tersebut, dibesarkan dan didik menjadi seorang guru. Dua diantaranya dikirim ke Batavia (sekarang Jakarta), untuk sekolah guru disana dan satunya lagi, Anna Matuli Walanda mengikut jejak dirinya sebagai guru dan aktif dalam PIKAT.

Berkat semua perjuangan yang telah dilakukannya, Maria menjadi Pahlawan Nasional Indonesia. Ia juga ditahbiskan sebagai salah satu perempuan teladan Minahasa yang memiliki "bakat istimewa untuk menangkap mengenai apapun juga dan untuk mengembangkan daya pikirnya, bersifat mudah menampung pengetahuan sehingga lebih sering maju daripada kaum lelaki".

Oleh karena itu, untuk mengenang jasanya, dibangunlah Patung Walanda Maramis di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Wenang (15 menit dari pusat kota Manado, lewat jalur darat). Dan per tanggal 1 Desember, masyarakat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis.

Sosok pahlawan emansipasi wanita ini tutup usia di Maumbi, Kalawat, Miahasa Utara, Sulawesi Utara, pada tanggal 22 April 1924, diusianya yang 51 tahun.

Komentar