Biografi Achmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri Pertama

Biografi I Gusti Ngurah Rai, Pahlawan Puputan Margarana Bali


I Gusti Ngurah Rai adalah salah satu pahlawan nasional yang mendapat anugerah Bintang Mahaputra dan kenaikan pangkat menjadi Brigjen TNI (Anumerta) oleh Pemerintah Indonesia.


Nama pahlawan yang berasal dari pulau Bali ini juga diabadikan menjadi nama Bandar udara di Bali, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai dan nama kapal perang KRI I Gusti Ngurah Rai. Tidak hanya itu, bentuk penghargaan lain atas jasanya yakni profil wajahnya tercamtum pada cetakan mata uang Rupiah pecahan Rp 50.000.


Ia dikenal akan perannya dalam perang Puputan Margarana, Bali. Puputan Margarana sendiri memiliki makna, yaitu puputan adalah habis-habisan dan Margarana berarti Pertempuran di Marga. Marga merupakan sebuah desa ibu kota kecamatan di pelosok KabupatenTabanan, Bali.


Kini, wilayah Puputan Margarana tersebut didirikan sebuah Taman Pujaan Bangsa Margarana.


Jiwa kepahlawanannya sudah ada sejak belia. I Gusti Ngurah Rai diketahui mulai tertarik dengan dunia militer sejak kecil. Kala itu dirinya bergabung dengan HIS Denpasar. Setelah itu tergabung dengan MULO yang ada di Malang.


Beliau juga pernah bergabung denga sekolah kader militer, Prayodha Bali, Gianyar. Dan dari sinilah karirnya mulai menanjak.


Apakah kamu sudah mengenal baik sosok pahlawan nasional yang satu ini? Jika belum, yuk simak biografi I Gusti Ngurah Rai berikut ini.


Biografi I Gusti Ngurah Rai

Lahir di Carangsari, Petang Badung, Bali, 30 Januari 1917, Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai marupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang berasal dari keluarga bangsawan kaya saat itu.


Orang tuanya bernama I Gusti Ngurah Palung dan I Gusti Ayu Kompyang. Berkat kedudukan sang ayah yang seorang camat di Kabupaten Petang, membuatnya mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan secara formal di sekolah dasar Belanda untuk pribumi, Holands Inlandse School (HIS), Denpasar.


Selesai dengan pendidikan di sekolah dasar tersebut, ia kemudian melanjut ke Dutch Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat Sekolah Menengah Pertama, di Malang. Namun karena kematian sang ayah di tahun 1935, mengharuskannya kembali ke tanah kelahirannya.


Setelah kembali ke Bali, selama dua tahun dia tidak melanjutkan pendidikan dan tidak memiliki pekerjaan tetap.


Dan akhirnya dia melanjutkan pendidikan dan berhasil lulus dari perguruan tinggi dengan pangkat letnan dua pada tahun 1940. Kemudian ia dikirim ke kursus perwira jangka pendek di magelang, yang selanjutnya dipindahkan untuk pelatihan ulang yang dipercepat ke sekolah artileri di Malang, pada tahun yang sama.


Ketika masa kependudukan Jepang, I Gusti Ngurah Rai pernah menjadi intel sekutu di daerah Bali dan Lombok. Semua itu berkat ilmu kemiliteran yang pernah diperolehnya semasa muda, serta pribadi yang cerdas.


Hingga akhirnya Indonesia mendeklarasikan Kemerdekaan pada tahun 1945, ia bersama rekan militernya ikut serta membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil. Dan disaat itu I Gusti Ngurah Rai terpilih yangkemudian diangkat menjadi komandan di kelompok itu.


Dan perjuangan I Gusti Ngurah Rai belum selesai sampai disitu. Pada tanggal 18 November 1946, I Gusti bersama pasukan kecilnya, Ciung Wanara melakukan penyerangan ke Tabana yang membuat satu datasemen Belanda dengan persenjataan lengkap menyerah.


Dibalik semua perjuangannya tersebut, ia diketahui menikah dengan seorang gadis Bali bernama Desak Putu Kari. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga orang buah hati, yakni I Gusti Ngurah Gede Yudana, I Gusti Ngurah Tantra, I Gusti Ngurah Alit Yudha.


Tak lama dari perjuangannya itu, I Gusti Ngurah Rai tutup usia pada tanggal 20 November 1946 di Marga, Tabanan Bali, Indonesia.

Komentar