Letnan Jenderal Suprapto adalah seorang pahlawan revolusi Indonesia yang berasal dari Purwokerto. Pada awal kemerdekaan, ia ikut serta dalam...

Biografi Letnan Jenderal Suprapto dan Akhir Kisahnya dalam G30S PKI



Letnan Jenderal Suprapto adalah seorang pahlawan revolusi Indonesia yang berasal dari Purwokerto. Pada awal kemerdekaan, ia ikut serta dalam pertempuran dan mengambil senjata dari tentara Jepang di Cilacap.

Letnan Jenderal Suprapto menjadi pahlawan revolusi karena salah satu korban dari gerakan 30 Septembe.

Biografi Letnan Jenderal Suprapto


Letnan Jenderal Suprapto dibesarkan di lingkungan dengan suasana religius yang berdampak positif pada karakternya. Ajaran agama yang diterimanya membuatnya menjadi pribadi yang lembut dan tenang.

Letnan Jenderal Suprapto memulai pendidikannya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Purwokerto. Setelah lulus dari HIS, melanjutkan pendidikan di MULO atau Meer Uitgebreid Camp Onderwijs (setingkat SMP).

Setelah lulus dari MULO, Jenderal Suprapto melanjutkan pendidikannya di AMS (setingkat SMA) di Yogyakarta dan lulus pada tahun 1941.

Pada tahun yang sama, pemerintah Hindia Belanda mengungumkan milisi karena pecahnya perang dunia kedua. Pada saat itulah, Letnan Jenderal Suprapto masuk pendidikan militer Koninklijke Militaire Akademie di Bandung.

Pertempuran Ambarawa


Pada masa awal kemerdekaan, Letnan Jenderal Suprapto adalah salah satu pejuang yang mengambil senjata dari pasukan Jepang di Cilacap. Ia kemudian menjadi anggota Pasukan Keamanan Rakyat (TKR) di Purwokerto.

Ini adalah awal Letnan Jenderal Suprapto resmi masuk menjadi tentara. Selama masa jabatannya di TKR, ia menunjukkan keterampilan yang hebat dan mendapatkan posisi Kepala Bagian II Divisi V.

Divisi V dipimpin oleh Kolonel Soedirman, tokoh yang sudah lama ia kenal sejak di pusat pelatihan pemuda.

Pada tanggal 12-15 Desember 1945, terjadi Pertempuran Ambarawa melawan pasukan Inggris, dimana Letnan Jenderal Suprapto ikut serta.

Peristiwa dimulai dengan Pertempuran di Magelang, perebutan Benteng Banyubiru hingga jatuhnya benteng Willem I di Ambarawa ke tangan TKR.

TKR berhasil mengalahkan pasukan Serikat dengan sekuat tenaga dan akhirnya melarikan diri ke Semarang. Letnan Jenderal Suprapto tidak hanya menjadi komandan Divisi II, tetapi juga ajudan Soedirman selama dua tahun.

Pada tahun 1948, setelah pembentukan Komando Jawa, Letnan Jenderal Suprapto tidak lagi menjadi ajudan Jenderal Soedirman.

Selanjutnya , ia pun diangkat menjadi Kepala Bagian II Markas Komando Jawa yang dipimpin oleh A. H. Nasution.

Kematian Letjen Suprapto dalam Peristiwa G30S 1965


Pada tanggal 30 September 1965, Letnan Jenderal Suprapto sedang mencabut giginya yang sedang sakit. Letnan Jenderal Suprapto merasa sakit pun menghabiskan waktunya melukis untuk Museum Perang di Yogyakarta.

Sehari kemudian, dini hari tanggal 1 Oktober, Letnan Jenderal Suprapto didatangi oleh kelompok yang mengaku sebagai Tentara Cakrabirawa. Sebagai informasi, tentara Cakrabirawa adalah pasukan keamanan Presiden Republik Indonesia.

Tentara Cakrabirawa dibentuk setelah adanya beberapa kali percobaan untuk membunuh Presiden Sukarno. Seorang yang mengaku dari Tentara Cakrabirawa mengatakan Letjen Suprapto harus bertemu dengan presiden.

Sebagai seorang perwira yang patuh, Suprapto bersedia untuk pergi menghadap dan dibawa paksa keluar pekarangan.

Letnan Jenderal Suprapto dimuat ke dalam truk dan dibawa bersama enam orang lainnya ke Lubang Buaya di pinggiran Jakarta. Saat itu Letnan Suprapto dituduh ikut serta dalam Sidang Umum untuk menggulingkan Sukarno.

Malam itu Letnan Jenderal Suprapto dan enam orang lainnya ditembak mati dan dibuang ke sumur tua. Pada tanggal 5 Oktober 1965, jenazah para korban pembunuhan dipindahkan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pada hari yang sama, Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No. 111/KOTI/1965 yang menyatakan bahwa Letnan Jenderal Suprapto sebagai pahlawan revolusi bersama dengan korban Ruban Buaya lainnya.


0 komentar: