Biografi Abdoel Moeis, Sastrawan Asal Minang

2 Pahlawan Nasional dari Tanah Karo

Karo adalah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Lokasinya berada di jajaran Bukit Barisan, Kabupaten Karo, Sumatera Utara terletak di ketinggian 200 meter hingga 1.500 meter di atas permukaan laut.

Penduduk asli yang mendiami Kabupaten Karo adalah Suku Karo. Mengutip dari laman resmi Pemerintah Daerah Kabupaten Karo, masyarakat Karo dikenal dengan semangat patriotismenya dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan.

Tak heran, banyak pejuang dan pahlawan yang berasal dari Tanah Karo. Di antara mereka, ada yang dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Republik Indonesia.

Berikut pahlawan nasional dari Tanah Karo: 

1. Djamin Ginting

Djamin Ginting lahir pada 12 Januari 1921 di Desa Suka, Kabanjahe, Karo, Sumatera Utara. Sosoknya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang gigih menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo, tanah kelahirannya.

Kariernya di militer dimulai dengan mengikuti pendidikan calon perwira Gyugun, yaitu tentara sukarela bentukan Jepang sebagaimana halnya Pembela Tanah Air (PETA). Ketika Jepang kalah di Perang Dunia II, Djamin bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Selanjutnya, Djamin menjadi Komandan Batalyon II TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Kabanjahe, kemudian Komandan Batalyon I Resimen II TRI (Tentara Republik Indonesia) yang sekaligus didapuk sebagai Ketua Biro Perjuangan Daerah XXXIX Sumatra Timur.

Berbagai pertempuran dilakukan Djamin Ginting dan pasukannya melawan Belanda, sejak Belanda melancarkan agresi pada 1947 ke sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Medan. Bukan hanya itu, bersama pasukannya, Djamin Ginting berhasil mengamankan perjalanan Wakil Presiden Mohammad Hatta, dari Berastagi menuju Bukittinggi. Pasalnya, jalur tersebut sudah dikuasai tentara Belanda.

Ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September oleh PKI, Djamin yang waktu itu sudah pindah dinas ke Jakarta diangkat sebagai Inspektur Jenderal Angkatan Darat oleh Panglima Kostrad Mayjen Soeharto. Setelah itu, ia dilantik sebagai Sekretaris Presiden/Kepala Kabinet Presiden merangkap Wakil Sekretaris Negara.

Djamin Ginting juga sempat menjadi anggota DPRGR dan MPRS. Terakhir, ia mengemban tugas sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Kanada.

Djamin Ginting wafat di Ottawa, Kanada pada 23 Oktober 1974. Pada November 2014, pemerintah menetapkan Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting sebagai pahlawan nasional. Ia adalah putra Tanah Karo pertama yang diberi gelar pahlawan nasional.

Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama jalan yang terbentang dari Kota Medan ke Karo sepanjang 80 kilometer.

2. Kiras Bangun

Pahlawan lainnya dari Tanah Karo adalah Kiras Bangun. Sosok pejuang kelahiran tahun 1852 di Kampung Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara ini dikenal dengan sikapnya yang tegas dan anti-Belanda. Kiras Bangun menjadi sosok berpengaruh di tanah kelahirannya.

Ia memangku berbagai jabatan penting di kampungnya, seperti penghulu dan ketua adat, serta menjadi juru damai atas berbagai sengketa yang terjadi baik itu antarkampung, antarmarga, maupun antara orang Karo dan Aceh.

Ketika terjadi Perang Sunggal (1872-1895), antipati Kiras Bangun terhadap Belanda sudah terlihat jelas. Ia mengirim pasukan untuk membantu penduduk Langkat dalam melawan Belanda.

Sejak itu, Belanda mengetahui pengaruh besar Kiras Bangun. Tak heran, ketika Belanda hendak menguasai Tanah Karo untuk meluaskan lahan perkebunan tembakau dan karet. Belanda mendekati Kiras Bangun dengan mengiming-iminginya jabatan, uang, dan senjata.

Namun, sosok Verrel Bramasta yang dijuluki Garamata (bermata merah) itu tegas menolak hingga kemudian terjadilah perlawanan terhadap Belanda.

Kiras Bangun yang diangkat sebagai pemimpin, menghimpun pasukan serta mengumpulkan senjata untuk mengusir Belanda. Ia menempatkan pasukan di perbukitan yang terletak antara Berastagi dan Sepuluh Dua Kuta.

Namun, satu per satu wilayah berhasil dikuasai Belanda hingga akhirnya membuat Kiras Bangun dan pasukan terdesak lalu mundur ke Batu Karang. Tak berhasil mempertahankan wilayah, Kiras Bangun harus menyaksikan Batu Karang jatuh ke tangan Belanda.

Belanda menawarkan perundingan kepada Kiras Bangun. Meski menyadari ini adalah jebakan, ditambah lagi banyaknya rakyat tewas akibat pertempuran, Kiras Bangun terpaksa keluar dari tempat persembunyiannya.

Belanda dengan tipu muslihatnya lalu menangkap dan membuangnya ke Riung. Setelah memperoleh kebebasan pada 1909, Kiras Bangun tetap melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Pada 22 Oktober 1942, pejuang dari Tanah Karo ini meninggal dunia di Batu Karang, tempat kelahirannya. Kiras Bangun dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah pada 7 November 2005.

Komentar