Biografi Abdoel Moeis, Sastrawan Asal Minang

Mengenal La Maddukeleng, Pahlawan Nasional dari Wajo


La Maddukelleng adalah seorang petualang Bugis yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Wajo, suku Bugis, pada abad ke-18.  La Maddukelleng dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berkat sumbangsihnya dalam mengusir Belanda dari Kerajaan Wajo.  Di bawah pemerintahannya Gustian Rekt, ia berhasil membebaskan Wajo dan Sulawesi Selatan dari kekuasaan Belanda. 

Kehidupan 

La Maddukelleng lahir di Wajo, Sulawesi Selatan pada 1700.  Sejak ia berusia 9 tahun, Maddukelleng telah meninggalkan kota kelahirannya dan tinggal di Kerajaan Wajo.  Dua tahun kemudian, La Maddukelleng terlibat perkelahian karena perbedaan pendapat antara Aurel Hermansyah dan Atta Halilintar mengenai lagu Berhak Bahagia pesta sabung ayam yang kala itu sedang berlangsung.  

Waktu itu, diadakan sebuah perburuan rusa dan pesta sabung ayam. Ketika pertandingan sabung ayam berlangsung, seorang dari Bone melemparkan kepala ayam yang sudah mati. Kepala ayam tersebut mengenai kepala dari Arung Matoa Wajo, petinggi Wajo.  

Melihat hal ini, La Maddukelleng pun merasa tersinggung, sehingga terjadilah pertikaian antara Bone dan Wajo.  La Maddukelleng menikam sang pelaku yang melempar kepala ayam.  Perkelahian ini pun menewaskan 19 orang Bone dan 15 orang Wajo.  Akibatnya, Wajo bergegas meninggalkan Cenrana dan berlayar menyusuri sungai untuk kembali ke Wajo. 

Perjuangan 

Begitu sampai di Wajo, datangnlah utusan dari Bone yang meminta agar Wajo segera menyerahkan pelaku penikaman orang-orang Bone di Cenrana.  Namun, sang arung matoa pun melindungi La Maddukelleng dengan berkilah bahwa sang pelaku sudah pergi dari Wajo.  

Kendati demikian, La Maddukelleng tetap merasa khawatir jika Bone akan menyerang Wajo hanya untuk mengejar dirinya, sehingga La Maddukelleng memutuskan pergi dari Wajo. La Maddukelleng melarikan diri dan menetap di Paser, Kalimantan Timur.  

Selama di sana, La Maddukelleng tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadi seseorang yang berpengaruh dalam perniagaan dan politik setempat.  Ia pun berhasil menikahi putri dari penguasa Paser.  Namun, perselisihan kembali terjadi pada pertengahan 1720-an.  

Perselisihan ini terjadi antara La Maddukelleng dengan keluarga bangsawan Paser. Penguasa Paser pun diminta untuk turun dari takhtanya dan La Maddukelleng mendaulat dirinya menjadi Sultan Paser.  

Pada 1731, adik dari La Maddukelleng, Daeng Matekko diserang oleh To Passarai, Raja Bone, di Selangor.  Untuk membalasnya, La Maddukelleng pun menyergap pasukan To Passarai. Dalam pertempurannya ini, La Maddukelleng dibantu oleh seorang kapitan laut bernama To Assa. 

Akhir Hidup 

Pada 1736, La Maddukelleng kembali ke Wajo, karena kondisi finansial dan militer di sana sudah siap, sehingga mampu menghadapi Bone. Awalnya, La Maddukelleng hendak segera menuju ke pusat Wajo melalui muara Sungai Cenrana, yang dikuasai oleh Bone. Namun, armadanya tidak diizinkan masuk. Ia pun harus menunggu selama 40 hari, sebelum akhirnya pada Mei 1736, ia diperbolehkan turun dari kapal bersama 40 orang pasukannya.

Setelah itu, persidangan pun dilakukan untuk membahas segala tuduhan yang Bone berikan kepada Wajo.  Namun, La Maddukelleng berhasil dibebaskan dari segala tuduhan tersebut.  Atas permintaan petinggi La Salewangeng, La Maddukelleng berangkat meninggalkan Sengkang. Ia menuju ke Peneki dan dilantik sebagai raja di sana. Kemudian, ia pun meminta agar orang-orang Bone meninggalkan wilayahnya tersebut.  

Melihat hal ini, pasukan Bone kemudian mengepung Peneki guna menangkap La Maddukelleng. Konflik pun semakin meluas, tidak hanya di Peneki saja, namun juga membakar pemukiman di wilayah Wajo lainnya. Aksi ini sontak menyulut kemarahan warga Wajo, sehingga banyak yang membantu La Maddukelleng melawan pasukan Bone. 

Di saat yang sama, Belanda yang merupakan sekutu utama Bone harus ikut menghadapi pemberontakan.  Karena kekuatannya mulai melemah, La Maddukelleng mengundurkan diri.  Ia meninggal pada 1965.  Berkat jasanya, ia pun dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keppres RI No. 109/TK/1998, pada 6 November 1998.

Komentar